/

Jumat, 04 April 2008

SEJARAH TEMPAT WISATA KAYANGAN

Tempat bertapa


Blog ini sengaja mengupas tempat-tempat wisata yang ada di wilayah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia. Ini dimaksudkan agara para blogger dapat mengenal Wonogiri lebih dekat.
Kali ini yang saya tampilkan adalah tempat wisata religi di Kahyangan, Kecamatan Tirtomoyo
.

Objek Wisata Kahyangan


Berdasar cuplikan Babad tanah Jawa yang diceriterakan oleh KRT Wignyo Subroto, RM Ng Cipto Budoyo dan RM Ng Sastro Purnomo BA, ketiga-tiganya adalah pejabat Kawedanan Hageng Punokawan Widya Budaya yang membidani adat dan kebudayaan keratonkasultanan Yogyakarta, bahwa mengenai latar belakang Hutan Kahyangan Dlepih dikeramatkan adalah sebagai berikut.
Kahyangan pernah digunakan untuk bertapa bagi sunan Kalijaga (salah satu wali sembilan), Raden Danang sutawijaya (putra angkat Sri sultan Hadiwijaya di Pajang), Raden Mas Rangsang (Sultan Agung Hanyokrokusumao), pngeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengkubuwono I).

Sunan Kalijaga bertapa di Kahyangan
Beliau bertapa agar mendapat derajad keluhuran budi . Beliau ditemani seorang muridnya yang setia, bernama Ki Widonanggo. Sunan Kalijaga setiap habis sholat pasti melakukan dzikir dengan menghitung biji tasbih. Suatu ketika Ki Widonanggo ingin sekali memiliki tasbih tersebut dengan jalan merebutnya dari tangan sunan. Namun niat jelek tersebut tidak terwujud karena tasbih terputus dan bijinya jatuh tersebar di Kedung Pasiraman.
Oleh karena biji tasbih tersebut dilihat Ki Widonanggo masih terapung semua, maka dia langsung terjun ke Kedung Pasiraman bermaksud mengembalikannya. Namun dengan suatu keajaiban biji-biji tersebut langsung tenggelam. Maka gagalah Ki Widonanggo untuk memiliki tasbih itu. Karena perbuatannya itu Ki Widonanggo akhirnya diminta menunggu hutan Dlepih.

Panembahan Senopati.
Menurut kisah sejarah bahwa Raden Danang Sutowijaya adalah putra angkat Sultan Hadiwijaya di Pajang dari anak kandung Ki Gede Pemanahan. Setelah menginjak dewasa beliau nampak memiliki bakat yang besar dalam ilmu kanuragan, serta ilmu ketatanegaraan. Kemampuan beliau telah dibuktikan sewaktu masih kanak-kanak menjelang remaja, mampu menaklukan Arya Penangsang, Bupati Jipang yang hendak menentang Pajang. Haryi Penangsang tewas dalam pertempuran melawan Danang Sutawijaya atas bantuan siasat Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, diganjar bumi Pati Pesantenan sedang Ki Gede Pemanahan diberi bumi Mentaok.
Menurut ramalan Ki Ageng Giring, bahwa bumi mentaok tersebut kemudian hari akan menjadi kerajaan besar. Ramalan tersebut menimbulkan kekhawatiran Sultan Hadiwijaya, sehingga beliau menunda pemberian bumi Mentaok kepada Ki Gede Pemanahan. Setelah agak lama, Ki Gede Pemanahan minta tolong kepada Sunan Kalijaga untuk menagih kepada Sultan Hadiwijaya perihal bumi Mentaok. Bareulah kemudian bumi Mentaok diberikan penuh kepada Ki Gede Pemanahan.
Bumi Mentaok yang merupakan tanah perdikan (berdaulat penuh), akhirnya menjadi daerah yang ramai dan makmur, sehingga layak menjadi suatu kerajaan tersendiri. Danang Sutawijaya sebagai calon raja masih merasa ragu-ragu akan keselamatannya karena beliau merasa bukan keturunan raja atau bangsawan. Disamping itu beliau belum mempunyai calon permaisuri sebagai pendamping. Maka kemudian Raden Danang Sutawijaya minta waktu untuk bertapa terlebih dahulu untuk minta berkah Ilahi sekaligus mencari calon permaisuri.
Perjalanan bertapa Raden Danang Sutawijaya mengarah ke timur. Sampai Madiun, beliau berjumpa Retno Dumilah, putri Raden Ronggo Prawirodirjo, Bupati Madiun. Atas Permintaan Raden Danang Sutawijaya, bahwa Rtno dumilah akan dijadikan permaisuri setelah nanti dinibatkan menjadi Sultan Mataram. Sebelum beliau mendapat firasat bahwa Retno Dumilah kelak akan menjadi ibu (babon) raja di Jawa.
Oleh sebab itu setelah dipinang, Retno Dumilah segera dibawa ke Mataram. Dalam perjalanan ke Mataram, Raden Danang Sutawijaya teringat hutan Dlepih yang pernah digunakan bertapa oleh Sunan Kalijaga untuk minta rahmat Ilahi, Maka beliau bersama Retno Dumilah tidak segera pulang ke Mataram tetapi singgah sementara waktu di DFlepih dan menginap di rumah Ki Puju.
Ki Puju adalah seorang petani yang sehari-harinya mencari kayu bakar di hutan Dlepih. Istrinya Ny Puju, sebagai penjual pecel yang sangat terkenal dengan masakan dari pucuk daun puju.
suatu hari Raden Danang Sutawijaya minta ijin kepada Retno Dumilah bahwa akan masuk kehutan Dlepih untuk bertapamengikuti jejak Sunan Kalijaga. Retno Dumilah sengaja ditinggal di rumah, karena tempat yang dituju sangat sukar ditempuh dan wingit.
Dalam perjalanan menuju hutan Dlepih, Raden Danangsutawijaya sampai pada dua batu besar yang bentuknya pipih lebar, sedang ujung atasnya saling bersinggungan sehingga rongganya dapat digunakan untuk lewat. Batu tersebut sampai sekarang masih tegar berdiri dan dinamakan batu selo gapit atau selo panangkep, kemudian beliau meneruskan perjalanan menuju selatan melalui sela gapit. Setelah sampai pada batu besar yang berongga semacam goa, datar dan atasnya melebar seperti payung. Beliau berhenti dan melakukan tafakur di situ. Batu tempat bertafakur tersebut dinamakan sela payung atau batu pamelengan.
Raden Danang Sutawijaya adalah orang muslim taat, maka walaupun menjalani tapa dengan cara patrap semedi, tetapi saat tertentu melakukan sholat lima waktu. Untuk melakukan sholat dipilihnya batu gilang yang hitam mendatar bagaikan sebuah meja yang terletak di sebelah selatan Selo Payung. Batu tempat sholat itu dinamakan Selo Gilang atau batu pesalatan.
Begitu pula pada pagi dan sore hari, Raden Danang Sutawijaya melakukan mandi di sebuah air erjun dekat batu pesalatan yang airnya jernih. Kedung tersebut dinamakan kedung pasiraman.
Demikian kegiatan sehari-hari Raden Danang Sutawijaya di hutan Dlepih. Sedang setiap ahrinya untuk keperluan makan dan minum dikirim oleh Ny Puju, karena Rteno Dumulah tidak berani melanggar perintah calon suaminya masuk hutan Dlepih. Setelah beberapa hari berjalan, sebagai manusia biasa Retno Dumilah memiliki rasa cemburu terhadap Raden Danang Sutawijaya yang betah di dalam hutan Dlepih.
Kemudian Retno Dumilah mengutus Ki Puju untuk menyelidiki kegiatan calon suaminya. Maka berangkatlah Ki Puju ke dalam hutan mengintip kegiatan Raden Danang Sutawijaya.

Bertepatan waktu pada hari itu Raten Danang sutawijaya sedang semedei di selo pamelengan didatangi oleh Kanjeng Ratu Kidul, yang telah menjadi kekasihnya semenjak beliau di muara kali opak (pantai laut selatan). Oleh karena pertemuan dua insan itu dirasa kurang enak, Raden Danang Sutawijaya mengajak pindah dari batu pamelengan ke selo Gilang yang lebih sepi dan terlindung hutan lebat.
Konon dikisahkan, pada pertemuan tersebut mereka saling memadu cinta dan Kanjeng Ratu Kidul seperti ikrarnya semula sangggup membantu berdirinya kerajaan Mataram hingga rakyatnya mengalamikesejahteraan. Alhasil belum puas mereka melaksanakan pertemuan, Kanjeng Ratu Kidul terperanjat karena merasa ada seseorang manusia yang mengintgip dari semak-semak belukar. Kanjeng Ratu Kidul merasa dirinya 'kamanungsan' maka beliau segera melesat menghindar dan gerakannya menyangkut tasbih Raden Danang Suta Wijaya sampai putus berserakan jatuh di Kedung Pasiraman. Peristiwa putus dan berantakannya tasibh Raden Danang Sutawijaya ini sampai sekarang berkembang menjadi beberapa versi.
Versi Mangkunegaran: pertemuan Kanjeng Ratu Kidul dengan Raden Sutawijaya diketahui oleh Sunana Kalijaga dan beliau menyusul ke Kahyangan untuk menyuruh Raden Danang agar segera pulang kle Mataram. Namun Kanjeng Radu Kidul melarang, sehingga niat Raden Danang akan kembali ke Mataram dicegah daengan menarik tasbih hingga putus berantakan dan bijinya jatuh di Kedung Pasiraman.
Versi Mataram: Pertemuan Kanjeng Ratu Kidul dengan Raden Danang Sutawijaya disusul oleh Retno Dumilah sehingga terjadi keributan. Retno Dumilah mengajak kembali ke Mataram, namun Kanjeng Ratu Kidul melarang, kemudian Kanjeng Ratu Kidul menarik tasibh hingga putus berantakan. Atas kebijaksanaan Raden Danang Sutawijaya, keduanya dapat didamaikan dan dijanjikan bahwa keduanya akan dijadikan permaisuri Mataram. Kanjeng Ratu Kidul dianggap permaisuri pertama sedang Retno Dumilah sebagai permaisuri kedua. Kanjeng Ratu Kidul berkenan hatinya menerima Retno Dumilah sebagai saudara mudanya. Pada saat itu Retno Dumilah mengenakan baju hijau dan kain parangklitik yang nampak menambah kecantikannya. Kemudian menurut legenda masyarakat, apabila ke Dlepih atau ke laut selatan dilarang mengenakan baju hijau dan kain parangklitik. Pemali (larangan) tersebut apabila dilanggar, yang bersangkutan bakal kalap (tewas), diangap dipersaudarakan dengan abdi dalem Kanjeng Ratu Kidul, yaitu Nyi Roro Kidul.
Versi cerita rakyat: Yang terperanjat adalah Raden Danang Sutawijaya dan sangat marah terhadap Ki Puju yang bertindak kurang berkenan di hati beliau. Tatkala akan mengejar Ki Puju, tasbih Raden Danangsutawija ditarik oleh Kanjeng Ratu Kidul dengan maksud mencegah, sehingga putus berantakan jatuh di Kedung Pasiraman. Niat Raden Danang Sutawijaya tersebut ditahan Kanjeng Ratu Kidul dengan maksud kelao roh halusnya Ki Puju dan Nyi Puju akan dipersaudarakan dengan Nyi Roro Kidul sebagai abdinya dan bertugas menunggu hutan Dlepih.
Cerita-ceita tersebut kini jadi mitos dab banyak ditiru masyarakat.
Masyarakat datang ke Dlepih ada yang nepi (semedi) namun ada pula yang mencari biji tasbih milik Raden Danang Sutawijaya yang dikabarkan jatuh di Kedung Pasiraman.
Kegigihan warga dalam berburu biji tasbih, sampai ada yang rela menyusuri kali Wiroko dari Kecamatan Nguntoronadi terus menuju hulu sungai sampai di Kedung Pasiraman. Menurut kepercayaan yang berkembang, batu akik yang dijadikanbiji tasbih milik Raden Danang Sutawijaya dan Sunan Kalijaga mempunyai kekuatan membawa keselamatan dalam menampuh kehidupan. Bahkan ada yang menganggap bahwa biji tersebut mampu digunakana untuk menolong seseorang yang ditimpa kesengsaraan. Misalnya, menyembuhkan dari penyakit.
Dalam berburu biji tasbih, sampai ada warga Desa Galeng, Kecamatan Baturetno melakukan pembendungan sungai Wiroko. Disamping itu konon sesudah tasbih Raden Danang Sutawijaya jatuh berantakan, di Kedung Pasiraman Kanjeng Ratu Kidul menambahka batu bertuah dari laut kidul. Kemudian setelah Raden Danang Sutawijaya mendapat rahmat Illahi tasa penobatannya menjadi Sultan Mataram, segera mengajak Retno Dumilah pulang ke Mataram. Sebelum berangkat, Raden Danang Sutawijaya memanggil Ki Puju dan Nyi Puju agar menunggu dan menjaga kawaanhutan Kahyangan Desa Dlepih. Selanjutnya, kedua abdi tersebut melaksanakan perintah hingga roh halusnya pun menunggu hutan Dlepih sampai sekarang.
Roh halus Ki Widonanggo dan Nyi Widonanggo menjadikawula (abdi) Kanjeng Ratu Kidul dan menguasai hutan Dlepih. Kemudian setelah dinobatkan menjadi sultan Mataram, Raden danangSutawijaya diberi gelar Kanjeng Penembahan Senopati Hing Ngalogo Kalifatullah Sayidin Panatagama.


Sultan Agung bertapa di Kahyangan
Raden Mas Rangsang adalah cucu Panembahan Senopati, sebagai sultan Mataram III. Sebelum dinobatkan, beliau melakukan tafakur di Kahyangan seperti halnya kakeknya dahulu, dengan diiringi pembantunya. Raden Mas Rangsang melalui Sela Penangkep langsung menuju sela Gilang (pesalatan) melakukan semedi meminta rahamat Tuhan.
Disitulah Mas rangsang ditemui oleh Roh almarhun kakeknya, Panembahan Senopati seperti hidup kembnali. Beliau memberi restu cucunya untuk bertahta di Mataram. bahkan berkenan memberi azimat berupa songsong Agung yang bercahaya mengkilap. Khasiatnya adalah kelak Raden Raden mas Rangsang mampu memerintah Mataram secara adil bijaksana sehingga Mataram mengalami kejayaannya. Kemudian Raden Mas rangsang kembaki ke Mataram dan dinobatkan menjadi raja bergelar Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo. (Tulus PE)

WISATA KAYANGAN

KECAMATAN TIRTOMOYO
Wisata spiritual Kahyangan lebih serius digarap


Banyak keindahan alam yang dimiliki Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri. Selain terkenal dengan wisata spiritual Kahyangan, berbagai potensi ekonomi banyak ditemukan di kecamatan ini. Kecamatan Tirtomoyo menjadi salah satu wilayah berpotensi di Wonogiri. Keadaan alam yang dikelilingi bukit tersebut seakan-akan terbelah menjadi dua. Hal ini karena di tengah-tengah wilayah seluas 9. 301.08 hektare (ha) itu mengalir Sungai Wiroko. Sungai terbesar di daerah tersebut dan menjadi sungai penghidupan masyarakat.
Potensi kerajinan yang cukup banyak di wilayah ini menjadi salah satu potensi yang perlu digarap. Keberadaan obyek wisata spiritual Kahyangan, menambah kekayaan potensi di kecamatan ini. Lokasi tersebut selalu disinggahi oleh petinggi daerah dan setiap Bulan Sura digelar wayang kulit semalam suntuk.
Guna menarik wisatawan, pengelola obyek wisata di Bulan Sura membuat obor sepanjang jalan masuk. Menurut penuturan beberapa warga stempat, lokasi wisata Kahyangan merupakan tempat bertapa Panembahan Senapati, salah satu leluhur Kerajaan Mataram.
Bahkan, menurut kepercayaan masyarakat, air di lokasi tersebut membawa berkah dan menjadi sumber kecantikan atau awet muda saat dibasuhkan ke muka. Lokasi wisata tersebut, boleh dibilang belum optimal difungsikan. Belum banyak wisatawan yang mampir ke lokasi tersebut. Bagi masyarakat sekitar Surakarta, Kahyangan sudah sangat terkenal.
Untuk mendukung promosi, pihak Dinas Perhubungan, Pariwisata, Seni dan Budaya (DPPSB) setempat telah membuat papan penunjuk lokasi tersebut. Selain itu, leaflet yang dicetak oleh DPPSB, lokasi wisata Kahyangan juga termasuk salah satu obyek wisata andalan Wonogiri.
Camat Tirtomoyo, Tarjo Harsono, mengatakan potensi itu akan dioptimalkan sehingga mampu mengembangkan daerah Tirtomoyo.
Pelurusan sungai
”Program jangka pendek kami adalah pelurusan Sungai Wiroko. Kenapa? Karena Sungai Wiroko keadaannya tidak berbentuk. Di saat musim penghujan aliran sungai akan berpindah-pindah seiring dengan kondisi tanah di aliran tersebut. Karena selalu berpindah-pindah, maka kami tetap akan meluruskan aliran sungai tersebut,” jelasnya.
Dengan pelurusan aliran sungai diharapkan lokasi di sekitar sungai bisa digarap oleh masyarakat. ”Karena Tirtomoyo sudah memiliki obyek wisata Kahyangan, maka masyarakat sekitar harus bisa memanfaatkan keberadaan obyek wisata. Salah satunya adalah menyiapkan sarana pendukung,” ujarnya.
Menurut rencana, tujuh desa di daerah selatan Sungai Wiroko akan dikembangkan menjadi daerah sentra tanaman perkebunan dan buah-buahan. Tujuh desa itu adalah desa Sukoharjo, Dlepih, Wiroko, Hargosari, Hargorejo dan Genengharjo serta Girirejo. Tarjo berharap jika masyarakat sudah mengubah pola tanam, maka tanamannya tidak melulu palawija. ”Wisatawan yang datang bisa langsung membawa oleh-oleh buah-buahan, seperti daerah wisata daerah lain.”
Menuju lokasi Kahyangan tidak terlalu sulit. Jalur transportasi pedesaan sudah berjalan dan di Tirtomoyo juga terdapat angkutan umum pada malam hari.
Kecamatan Tirtomoyo meskipun berada di daerah yang cukup terpencil, namun menyimpan potensi sumber alam dan sumber daya manusia yang cukup teruji.
Selain obyek wisata Kahyangan, di Desa Sukoharjo juga terdapat monumen atau petilasan Pangeran Diponegoro. Potensi sejarah tersebut memang belum tersentuh dan sangat sedikit masyarakat Wonogiri yang mengetahui.
Hal itu kemungkinan disebabkan kondisi geografis yang penuh dengan gunung, sehingga dibutuhkan akselerasi dari pemegang kekuasaan.
Camat Tirtomoyo, Tarjo Harsono, mengatakan potensi lain yang cukup mengangkat daerah Tirtomoyo menjadi daerah subur adalah industri batik tulis dan industri genteng di sekitar Sungai Wiroko.
Dua industri tersebut, menurut Tarjo, mampu mengurangi angka pengangguran. Untuk industri rumah tangga, batik tulis Wonogiren menyerap tenaga kerja mencapai 250 orang, sedangkan industri genteng sekitar 200-an tenaga. Industri batik tulis, di daerah Ngarjosari hingga saat ini masih dilestarikan karena turun temurun. ”Pemasaran batik Wonogiren sudah menjangkau ke kota-kota besar, seperti Surabaya, Jakarta dan Solo. Setiap ada pameran produk unggalan, pengrajin batik tulis Wonogiren selalu tampil,” kata Tarjo.
Sedangkan industri genteng terpusat di Desa Wiroko dan tersebar di tiga dusun. Mengingat jumlah pengrajin cukup banyak, para pengelola telah membentuk koperasi. Bahkan, saat kejadian gempa di Klaten beberapa waktu lalu, pengrajin genteng Tirtomoyo mampu memenuhi pesanan genteng sebanyak 100.000 buah dalam waktu sehari.
”Keberadaan koperasi pengusaha genteng cukup efektif, terutama dalam hal pemupukan modal. Karena motif genteng selalu berubah-ubah, pengrajin di Tirtomoyo selalu mendapat informasi dari luar daerah seiring dengan kemajuan informasi,” jelas Tarjo.
Sentra tanaman
Daerah yang kecukupan dalam kebutuhan air itu, menurut Tarjo, akan dikembangkan sistem sentra tanaman. Dia memiliki konsep dari 14 desa/kelurahan yang ada di Tirtomoyo akan dibagi dalam tiga sentra, yakni sentra tanaman perkebunan buah-buahan, sentra palawija dan sentra padi.
Desa Dlepih yang menjadi tempat obyek wisata Kahyangan akan dibagi menjadi dua sentra tanaman, yakni tanaman buah-buahan dan tanaman padi. Demikian juga Desa Wiroko, yang telah terdapat industri genteng akan ditambah dengan sentra padi.
Khusus untuk Desa Tanjungsari, Sendangmulyo, Ngarjosari dan Hargantoro, akan dijadikan sentra palawija. Empat desa tersebut merupakan jalur pintu masuk ke Kota Tirtomoyo, sehingga dengan berkembangnya pola tanaman palawija diharapkan pendatang atau wisatawan akan menikmati perjalanan dengan melihat hijaunya tanaman.
Sentra padi akan dipusatkan di Desa Dlepih, Wiroko, Banyakprodo, Sukoharjo dan Kelurahan Tirtomoyo, sedangkan sentra tanaman buah-buahan akan dipusatkan di Desa Sukoharjo, Dlepih, Wiroko, Hargosari, Hargorejo, Genengharjo dan Girirejo.
Selain itu, untuk mempercepat arus transportasi, akan dikembangkan sarana perhubungan atau jalur lintas selatan dari Desa Hargosari menuju Kecamatan Nawangan, Pacitan. Akses jalu lintas provinsi itu akan dikembangkan di lima desa lainnya.
Dengan adanya sarana jalan diharapkan potensi yang ada di Tirtomoyo bisa didistribusikan dan diminati oleh pemilik modal luar daerah.


Data Kecamatan
Nama Kecamatan : Tirtomoyo
Nama camat : Tarjo Harsono
Luas wilayah : 9.301.0885 hektare (ha)

Jumlah Desa/Kelurahan : 14 (empat belas)
Jumlah RT : 386 RT
Lahan sawah : 1.804.5315 ha
Lahan tegalan : 3.272.7482 ha
Lahan bangunan : 2.408.7675 ha
Hutan negara : 1.572.3895 ha
Padang rumput : 15.1960 ha
Lain-lain : 186.4560 ha
Batas Wilayah :
Utara : Kecamatan Jatiroto dan Sidoharjo
Timur : Kecamatan Nawangan, Jawa Timur
Selatan : Kecamatan Batuwarno
Barat : Kabupaten Nguntoronadi

Data sistem pengairan lahan di Tirtomoyo (dalam ha)

No. Desa teknis 1/2 teknis sederhana tadah hujan pasang surut
1. Hargosari - 440.000 1.324.845 - -
2. Dlepih 760.300 235.000 136.490 431.400 -
3. Wiroko 760.000 400.000 95.700 - -
4. Sukoharjo - 250.000 807.690 - -
5. Hargorejo - - 721.490 100.000 -
6. Sidorejo - 50.000 370.000 - -
7. Genengharjo - 500.000 200.000 140.000 -
8. Girirejo - - 729.990 461.050 -
9. Hargantoro - 670.000 324.940 466.280 -
10. Tirtomoyo 738.135 526.870 428.000 55.155 -
11. Banyakprodo 1.961.000 - 50.000 70.615 -
12. Ngarjosari - 500.000 300.000 - -
13. Sendangmulyo - 50.000 - 1.582.980 -
14. Tanjungsari - 11.174.991 248.145 - -
Sumber: Kantor Kecamatan Tirtomoyo - Trianto Hery Suryono

Jumat, 01 Februari 2008

AIR TERJUN GROJOGAN SEWU



INI ADALAH TEMPAT WISATA YANG SANGAT ELOK "AIR TERJUN GROJOGAN SEWU " NAMANYA YANG TERLETAK DI TAWANG MANGU

KHAYANGAN


KHAYANGAN ADALAH TEMPAT WISATA YANG ADA DI DAERAH
TIRTOMOYO, TEPATNYA DI WILAYAH DLEPIH...

Jumat, 21 September 2007

KAYANGAN

KAYANGAN ADALAH SUATU TEMPAT WISATA YANG DEKET DENGAN RUMAH SAYA,YANG BIASA RAMAI DIBULAN SURO TEPATNYA MALAM TGL.1 SURO,UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI SAYA,SRI WIBOWO ALIAS BOWO DI NO. 085692596391 TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA,